Selasa, 22 Desember 2009

Baju Import Asal Cina Lebih Disukai Pengunjung




Barang impor tekstil dan produk tekstil (TPT) khususnya pakaian jadi atau Baju Import, terus membanjiri berbagai pasar dan minimarket busana di Kota Bandung dan sekitarnya, sehingga meresahkan sejumlah pengusaha pakaian jadi. Pasalnya, banyak pedagang pakaian lebih memilih produk cina yang harganya lebih murah.

Anan, pengusaha pakaian jadi di Pasirkaliki Bandung, selasa mengakui pesanan memang mulai sepi sekitar satu-dua tahun yang lalu dan pasar lokal banyak dicaplok oleh pakaian asal cina karena harganya lebih murah. "Jumlah pelanggan tetap mulai berkurang karena mereka beralih berdagang pakaian impor, " katanya.

Sementara itu, Tuwarno, seorang pengusaha konveksi asal Banyumas, di Pasar Atas Cimahi Bandung, mengakui untuk bisa bertahan ia terpaksa menurunkan kualitas produknya dengan menggunakan bahan baku tekstil yang lebih murah, seperti bahan pollyester sebagai ganti katun untuk menurunkn ongkos produksi.

Menurutnya, di tahun 2006 ini order sangat sepi dibanding awal tahun 2000an. Diakuinya dirinya kini lebih menunggu order daripada jemput order.

Produk baju import asal Cina diakui sejumlah pedagang di Pasar Baru Trade Centre, juga minimarket busana di kawasan Jln Otoiskandardinata lebih diminati pengujung lokal maupun pengunjung musiman karena kualitas dan modelnya yang lebih trend.

Sirait Situmorang, pengusaha minimarket busana dikawasan Otoiskandardinata, Selasa mengakui kualitas baju import Cina lebih bagus daripada produk lokal. Selain itu harganya lebih murah dan pedagang dapat untung lebih cepat.

Harga baju anak-anak masih bisa didapat dengan harga Rp. 7.500, celana remaja dan dewasa paling tinggi harganya Rp. 49.900, kemeja Rp. 25.000, pakaian dalam pria wanita paling tingi Rp. 12.500 per paket, dan pakaian muslim antara Rp. 22.000, hingga Rp. 65.000 per stel.

Hal senada ***ngkapkan pedagang busana di Pasar Baru Trade Center Lt. 5, Handy Kurniawan. Dari satu produk yang sama, katanya, keuntungan menjual pakaian impor mencapai 10 -25 persen. hal ini karena baju import lebih murah, sehingga keuntungan menjadi lebih tinggi pada harga yang sama dengan produk lokal.

Sedangkan Cecep, pedagang kakilima (PKL) di Pasar Astana Anyar, mengatakan, dirinya memilih menjual produk Baju Import Cina karena konsumen pembeli kebanyakan lebih menyukai modelnya yang lebih bervariasi. (ant)

banten.go.id/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar